Showing posts with label LOVE. Show all posts
Showing posts with label LOVE. Show all posts

Tuesday, April 15, 2014

Untitled

“Angga?”
“Fira?”
Setelah beberapa detik menyadari bahwa mereka saling kenal, Angga dan Fira pun saling berpelukan. Tak lama Fira pun melepaskan pelukan Angga karena menyadari di ujung sana ada yang memantaunya.

Tuesday, May 28, 2013

Let Me Find My Own Happiness...

BRRAAKK…!!!
“Duh, sorry-sorry. Gue buru-buru. Maaf banget ya. Mana banyak banget lagi buku lo,” amarahku mereda seketika ia mengucapkan kata sorry dan buru-buru. Ketidakmampuannya melafalkan huruf ‘r’ dengan baik membuatku terpana. Ya. Lelaki cadel, terutama pada pelafalan huruf ‘r’ yang memiliki ciri khas tersendiri, selalu menarik perhatianku. Tanpa kusadari, aku memerhatikannya lekat-lekat. “Hoi!!” aku pun tersadar dan segera membenahi diri tak penting untuk menutupi kebodohanku yang memerhatikannya dengan sangat saksama.

Friday, August 17, 2012

(Mungkin) Ini Cinta



Hari ini, ada rasa yang tumbuh. Pertemuan rutin sebagai pupuk, senda-gurau sebagai air, dan tawa yang renyah sebagai matahari. Aku mulai bertanya pada diri sendiri. Benarkah ini cinta atau hanya perasaan jenuh terhadap hampa? Aku memastikan lagi. Bertanya pada hati berulang-ulang kali. Mungkin jika hati bisa berbicara, ia akan berteriak di hadapanku “Banyak bacot lo!”
***
Senin, 16 April yang lalu, tepatnya saat prime time malam, ada sebuah tweet dari salah satu following-ku. Memberitahukan info open recruitment volunteer suatu acara besar salah satu koran ternama ibu kota. Tanpa pikir panjang, aku mengklik link yang ada pada tweet tersebut. Membaca dengan detil persyaratan untuk menjadi volunteer. Membuka Ms. Word dan segera membuat sebuah tulisan. Iya, salah satu syarat untuk menjadi volunteer adalah dengan mengirimkan sebuah tulisan yang sesuai dengan beberapa tema yang telah ditentukan.
Tiga jam berlalu, tulisan tersebut telah siap kukirim. Kubaca sekali-dua kali, memastikan tak ada pemilihan kata yang salah ataupun typo. Segera kukirimkan tulisanku tersebut lewat e-mail dan kemudian duduk manis menunggu pengumuman sebulan kemudian.
***
Sebulan berlalu, aku mendapatkan e-mail dan SMS yang menyatakan bahwa aku diterima menjadi volunteer. Ah, senangnya! Selanjutnya, aku diminta datang ke tempat yang telah ditentukan, di daerah Pal Merah, untuk berkumpul bersama volunteer terpilih lainnya. Yeay! Dapat teman-teman baru. Girangku dalam hati sambil tersenyum menatap layar smartphone-ku.
Saat matahari sedang terik-teriknya, aku memasuki salah satu gedung di kawasan Pal Merah dengan sedikit berlari. Aku terlambat. Macetnya Jakarta bangsat banget! Padahal aku telah berangkat dari kostanku satu jam sebelum waktu yang telah ditentukan. Aku memencet tombol naik lift berulang-ulang kali. Ya, aku tau itu sia-sia, karena layar di atas lift menunjukkan lift masih berada di lantai 8. Mataku gesit mencari di mana tangga berada. Setelah menemukan titik tersebut, aku berlari.
BRRRRAK!!!
Aku menabrak seseorang. Lelaki dengan tubuh tinggi semampai dan badan yang proposional. “Duh, maaf...” Senyum yang manis, diiringi gigi dengan bracket berwarna abu-abu. “Kamu gak kenapa-kenapa?” Badannya yang tinggi, membuatku mendongak untuk sekedar melihatnya. Padahal posisiku saat itu tidak benar-benar tersungkur.
“Hei! Kamu gak kenapa-kenapa?” aku terlalu terkesima dengan kecelakaan kecil itu, sehingga ia harus mengulangi pertanyaannya.
“Eh. Ng...gak apa kok,” jawabku gugup.
“Baguslah kalau begitu,” ia tersenyum sekali lagi. Membuat aku lupa bahwa aku sedang terlambat.
“Eh, aku duluan ya. Aku telat, nih,” kemudian aku lari tergopoh-gopoh menaiki entah berapa anak tangga, menuju lantai 4. Sementara itu, ia berjalan menuju lift. Shit! Lift itu kini terbuka. Dan bodohnya, aku tetap saja naik tangga.
Sesampainya di ruangan itu, aku kaget bukan main. Ada dia, lelaki yang kutabrak tadi. Ternyata dia adalah salah satu volunteer terpilih juga. Ah! Tuhan Maha Baik. Hanya itu yang terlintas di otakku. Entah mengapa, selalu Tuhan selipkan kebahagiaan di sela ketergesa-gesaaanku.
Beruntung aku bukan satu-satunya orang yang telat. Jumlah kepala dalam ruangan itu belum banyak. Mungkin bukan hanya aku yang terjebak macet. Syukurlah! Setelah mengatur napas karena kecapekan menaiki tangga, ia menghampiri tempat di mana aku duduk.
“Heh! Ternyata kamu volunteer juga?” tanyanya basa-basi.
“Iya. Hehehe,” aku bingung harus bertanya apalagi untuk membuat percakapan itu menjadi dua arah. Ia mengubah posisi duduknya, menjadi lebih dekat, memangkukan kedua kepal tangannya pada dagunya, dan kini menatapku dengan lekat. 
“Lah terus ngapain tadi kamu lewat tangga? Hahaha,” tawanya renyah. Duh! Aku salah fokus. Fokus! Fokus!
“Oh, itu. Hehe. Aku kira aku udah telat. Abis tadi macet banget. Aku mau naik lift tapi tadi pas aku dateng lift-nya masih ada di lantai 8. Gitu…,” kata terakhir aku ucapkan dengan bibir manyun yang kulakukan dengan tanpa sadar.
“Hahaha. Aku baru tau ada cewek yang meskipun lagi ngambek tetep aja cantik,” aku tersipu malu. Satu yang terlintas saat itu. Ini anak muridnya Genna ya? Jago banget nyepik, padahal baru ketemu. Eh?! :))
“Di sepik-live dong. Hahaha. By the way, namanya siapa?” aku menjulurkan tanganku.
“Bimo. Kamu?” tanyanya balik sambil menjulurkan tangannya.
“Aku Anggi.” jawabku singkat. Bukan karena ingin bersikap dingin. Lebih karena aku dibuat beku di hadapannya.
Hari itu kami bertukar pin BB. Hari-hari berikutnya kami bertukar nomer handphone. Dan hari-hari berikutnya kami bertukar cerita. Cerita ini, cerita itu, cerita apa saja. Hari ini, ada rasa yang tumbuh. Pertemuan rutin sebagai pupuk, senda-gurau sebagai air, dan tawa yang renyah sebagai matahari. Aku mulai bertanya pada diri sendiri. Benarkah ini cinta atau hanya perasaan jenuh terhadap hampa? Aku memastikan lagi. Bertanya pada hati berulang-ulang kali. Mungkin jika hati bisa berbicara, ia akan teriak di hadapanku “Banyak bacot lo!"
***
“Nggi, makasih ya udah selalu nyemangatin aku,” ucapnya tiba-tiba. Dini hari itu aku dan Bimo sedang menelusuri jalan di atas trotoar. Sepi sekali. Hanya ada beberapa mobil dan motor berknalpot super annoying yang meramaikan suasana saat itu. Ada juga suara wajan yang beradu dengan sodet milik tukang nasi goreng pinggir jalan.
“Eh? Kok?” aku sudah tau ke mana arah pembicaraan ini. Makanya, hanya itu yang bisa kulontarkan. Aku tak tau harus menjawab apa.
“Aku nyaman sama kamu, tapi aku mau keluar dari zona nyaman,” sikap yang bagus, yang tak selalu dilakukan cowok zaman sekarang yang akhirnya terjebak friendzone.
“Iya...,” aku mengangguk dan membiarkan ia melanjutkannya.
“Hm... Gini loh, Nggi...,” ucapannya terputus. Ia membiarkanku membuka pintu gerbang kostanku terlebih dulu. Kemudian kami berdua masuk dan duduk di teras yang remang-remang.  “Aku sayang kamu.” Aku tau ia akan mengucapkan hal itu, sedang aku tak tau harus membalasnya bagaimana. Aku mengalihkan pandangan ke mana saja sambil entah berpikir tentang apa.
“Bukannya cewek butuh kejelasan ya?” ia melanjutkannya lagi, mengetahui aku tak membalas pernyataannya. Kami berdua terdiam. Keadaan pun menjadi hening. Sesekali motor berknalpot annoying yang sama dengan tadi menjadi backsound keheningan antara aku dan Bimo. Kali ini suaranya lebih jauh. Tidak terlalu memekakakan telinga. Lama-lama suara knalpot itupun hilang. Namun, kami masih tetap terdiam.
Tak lama kemudian, ia berdiri. Mungkin merasa sia-sia berada di hadapanku. Aku pun tak lantas diam. Aku menarik tangannya. Menarik pula badannya agar berhadapan denganku.
“Bim, aku juga sayang kamu, kok...,” aku memeluknya, erat sekali. Merasakan hangat tubuhnya. Mendengarkan detak jantungnya yang berubah menjadi cepat secara perlahan. “...tapi...,” ia melepas pelukanku begitu aku mengucap satu kata itu; tapi.
“Bimo, aku masih nyaman sendiri. Aku masih menyiapkan hati jika suatu saat disakiti lagi. Jika suatu saat ternyata aku memilih orang yang salah. Aku masih menyiapkan diri untuk merasa kebal ketika ada yang mencoba mematahkan ini.” aku menunjuk dadaku dengan telunjuk kananku, kemudian tangan kiriku mengenggam tangannya. Erat.
“Iya, aku ngerti, kok.” tangan kanannya menarik kepalaku dalam peluknya, mengusapnya, kemudian menciumnya. Tulus. Aku tau, ia tak sepenuhnya mengerti...

Monday, April 30, 2012

Julie di Bulan April


Berlin, den 30. 4.
Liebe Julie...
Engkau satu dari sekian banyak wanita menawan yang kutemui, tetapi hanya satu-satunya yang mampu menyapa hatiku yang sepi. Parasmu cantik, pun hatimu. Aku sedang tidak nyepik seperti yang dilakukan lelaki-lelaki di linimasa-mu. Iya, aku menjadi stalker-mu. Kini kau tak perlu pakai aplikasi virus hanya untuk mengetahui siapa yang mengecek timeline-mu setiap hari. Pasti banyak, tetapi selalu aku...
Hatiku berkata engkau sedang baik-baik saja, kuharap hatiku benar. Selalu benar, sih. Seperti saat memilih wanita dan hatiku jatuh padamu. Terjegal lesung di kedua pipimu dan sikap manismu saat bertemu denganku di lobby Rumah Sakit Santa Borromeus, Bandung.
Bagaimana April-mu? Setampan wajah April-mu yang dulu kah? Maksudku aku. Ah, aku hanya bergurau. Tak pernah kau panggil aku tampan, dulu. Selalu kau panggil 'jelek.' Tak apa, asal kau ucapkan hanya padaku. Lebih baik daripada panggilan 'sayang' yang di-broadcast ke entah siapa aku enggan melanjutkannya...
Sudah kah kau hampiri pusara ayahmu, Julie? Sudah kah kau taruh se-bucket bunga mawar putih kesukaannya? Jika kau pergi ke sana lagi, sampaikan salamku padanya. Maaf aku belum sempat mengunjungi beliau. Suatu saat, pasti. Terakhir tentang ayah...sudah ikhlas kan, Julie? Ini sudah tahun ketiga. Aku harap sudah...
Bagaimana kabar Kayla? Sekolah di mana si manis itu sekarang? Aku harap kejadian tiga tahun lalu tak menghalangi si manis untuk bersekolah. Tak pula menghalangi bakat yang dimiliki untuk dikembangkan. Tanamkan pada diri Kayla untuk tak mendengarkan cemooh orang lain, Julie. Aku tau itu pasti berat untuk Kayla, tapi aku yakin Kayla bisa menghadapi hidupnya yang tak lagi sempurna--dalam arti sesungguhnya--seperti tiga tahun yang lalu...
Kabarku? Tak inginkah kau tau? Tak perlu kau jawab, kau pasti tau aku akan tetap bercerita meski jawabanmu adalah tidak. Aku sudah akan menyelesaikan S2-ku di Berlin, Julie. Secepatnya akan kembali ke Indonesia, hanya sebentar. Maukah kau menemuiku yang telah meninggalkanmu tiga tahun yang lalu?
Aku hanya ingin memastikan kau tak membenci bulan April-mu lagi, Julie. Sudah tiga tahun, tak maukah kau memaafkan bulan April-mu? Aku harap selalu ada hal yang membuat April-mu indah dan mengikis kebencianmu kepadanya. Mungkin aku, alasannya. April-mu yang dulu...
Maafkanlah April di hari terakhirnya, Julie. Wir sehen Sie uns in Indonesien!
mit Liebe aus Berlin,
Aditya Aprilio

Monday, April 16, 2012

Karma?!

“Tanda lahir kamu di sebelah mana yang gak aku tau, Ne?”
PLAK!!! Telapak tangan halus Anne mendarat mulus di pipi Redzi. Menyisakan rona merah jambu tipis di sana.
“Kalau ngomong dijaga...,” keadaan hening sesaat. “Ini juga!” tegas Anne sambil menunjuk dada Redzi.
“Bukan aku yang gak jaga hati, tapi kamu yang gak jaga aku.”
DHEG!!! Dada Anne serasa ditikam bambu runcing.
“Maumu apa, Redzi Arya Pramitra? Gak cukup kamu menyakitiku? Masih belum puas?”
“Iya, Ne. Gak puas. Terakhir cuma nyentuh bibir, gak nyentuh yang lain.”
“Brengsek!” Satu tamparan mendarat kembali dan setelahnya Anne pergi.
“Ne, bentar. Aku becanda.” Redzi mencoba menahan Anne dengan menarik pergelangan tangannya. Anne pun berhenti, tetapi badannya tetap tidak berbalik ke arah Redzi. “Jangan serius-serius banget, nanti mati.” Anne melanjutkan langkahnya, merasa dipermainkan. “Ne, sekarang aku serius! ANNE...!” Anne tak menggubris dan tetap berjalan.
***

Anne duduk berpangku lutut di rooftop apartment tempatnya tinggal di Jakarta. Sesekali ia mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya beserta beban-beban yang dikandungnya. Jakarta keras bagi Anne. Banyak perubahan yang terjadi pada diri Anne, pun dengan kehidupannya, semenjak ia hijrah dari Surabaya. Mungkin ibu bakal kecewa sama gue yang sekarang. Batinnya lemas.
“HOY!” sapa Rai menyadarkan Anne dari lamunan.
“Kok lo tau gue di rooftop?”
“Tadi satpam lantai lo yang bilang. Katanya liat lo menuju rooftop begitu beliau turun.”
“Oh...,” jawab Anne tak antusias.
“Ne, Beach Party, yuk! Malam ini di tempatnya Dita.”
“Ngapain?”
“Ya menurut ngana?”
“Oh...,” Anne menjawab sekenanya dan Rai pun tak peduli, ia tetap mengajak Anne untuk ikut.
“Ada Redzi juga kok, Ne.”
“HAH?!” kali ini ekspresi Anne berubah 180 derajat.
“Ya? Ada yang salah gitu?”
“Dia bawa siapa?”
“Hah? Kok bawa siapa?” Rai mengerutkan dahinya tak mengerti dengan ucapan yang melayang dari bibir mungil Anne.
Memang tak pernah ada kata putus yang melayang dari bibir Redzi maupun Anne, tetapi sikap Redzi-Anne menunjukkan bahwa mereka bukan sedang baik-baik saja. Sikap Anne belakangan jadi lebih cuek, bukan terhadap Redzi, lebih terhadap dirinya sendiri. Anne lebih sering berkutat dengan pekerjaannya di kantor, bahkan rela membawa pekerjaan tersebut ke apartment-nya. Badan Anne mengurus, pipinya pun mulai tirus. Redzi telah menyiksanya dan dirinya pun turut membantu.
“Ne… Anne… ANNE. ANNEKE DWI PUTRI!!!”
“Apaan sih nyet!”
“Ya elo bengong! Ikut ya?”
“Gue nyusul deh. Kalau mood. Lagian pakaian gue masih di laundry semua belum gue ambil.”
Beach party gitu, Ne. Lo pake bra sama outer juga jadi. Bawahan pake hot pants juga oke. Ayo lah!”
“Apa yang bisa bikin lo ninggalin gue di sini sendiri?”
“Dateng ya, Hunny! Lo butuh refreshing. Mwah!”
***
Raihanuun (+6281899xxxxxx)
Ne, di mana? Kalau lo gak mau, jangan dipaksa.
Sorry, ya masalah tadi siang. Take care, Ne. :)

“Ini Rai apaan sih gak jelas banget jadi manusia. Gue udah siap-siap malah SMS kaya begini,” gerutu Anne kesal.
***
“Gilang! Siniii…,” panggil Rai lirih.
“Kenapa, Rai?”
“Itu Redzi sama…?”
“Anne dateng gak?”
“Tadi siang gue maksa dia dateng, tapi barusan udah gue SMS sih suruh dia gak usah dateng. Duh! Gawat dong…”
“Gue juga kaget. Ya you know Redzi kaya apa kan…” keduanya pun saling pandang dan mengangkat bahu, menyerah pada keadaan. Sesaat kemudian…
“HAI!” senyum dengan lesung di pipi sebelah kanan Anne menyapa Rai dan Gilang.
“H…h…hai, Ne. Jadi dateng?” balas Rai gugup. Gilang pun terdiam.
“Jadi lah. Elo gak jelas nyet tadi siang maksa, barusan SMS gue begitu. Eh, Lang gak sama Tita?”
“Tita lagi di jalan, Ne.” Gilang tak membuat percakapan lebih jauh, takut terlihat kegugupannya.
“Redzi mana, Rai? Dia pasti datang dong. Kan lo sendiri yang bilang ke gue tadi siang,” mata Anne liar mencari keberadaan Redzi.
“Ngg… Gil. Help!” ucap Rai lirih. Namun, sesaat kemudian…
 “BANGSAT! Tanda lahir Dita di sebelah mana yang gak lo tau, Redzi?” Anne pun segera berlari keluar rumah Dita dan melesat cepat dengan Jazz merahnya. Sementara itu, Beach Party yang diadakan di kediaman Dita bubar tanpa perintah komandan. Rai, Gilang, dan Tita segera menyusul Anne. Bimo, Oddy, Andri, Rezky, dan Sheila memilih menghindar dari tempat tersebut menuju pub terdekat dari kediaman Dita. Sedangkan, Dita dan Redzi diselimuti keheningan, bibir mereka kelu, dan hanya dapat berbicara melalui tatapan.
***
Dua hari berlalu, Anne semakin terpuruk. Mogok bekerja, mogok berbicara, dan mogok makan. Alhasil, ia pun jatuh sakit. Pada hari itu pun, Rai berusaha membuat usaha mogok-mogokan Anne berhenti. Paling tidak Rai mau ada makanan yang masuk ke perut Anne.
“Ne, makan ya. Please, sesuap-dua suap deh. If you don’t love yourself, who’s wanna love you, Ne?”
“Gue positif.”
“HAH?!”
***
“Kita sama, Ne. Belum tentu itu aku, kan? Kamu udah mencampakkan aku beberapa hari yang lalu. Boleh kan kalau aku pilih karma datang ke kamu kapan? Dan aku mau sekarang, Anne.” Redzi pun meninggalkan Anne yang terkulai lemas di depan pintu kostan Redzi.

*** END ***

Saturday, April 14, 2012

Y U NO HAVE A GOOD RELATIONSHIP WITH YOUR EX?!

Jujur, aku masih berharap.
Bisa gak ya gue sama dia lagi?
I'm not moving. I just don’t want to. Still you in my heart...


Perasaan dan pikiran-pikiran yang seperti itu yang perlu dikubur dalam-dalam kalau masih tetap ingin memiliki hubungan baik dengan mantan. Kenapa? Hal-hal tersebut bisa melahirkan ego untuk memilikinya (lagi), bahkan memaksa. Pemaksaan itulah yang nantinya akan menghancurkan segalanya; hubungan pascaputus.
Begini, setiap pasangan yang baru pisah butuh jangka waktu untuk menetralkan perasaan masing-masing. Waktunya tergantung dari seberapa dalam perasaan mereka dan seberapa ahli mereka dalam mengendalikan perasaan mereka sendiri. Tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang memiliki perasaan sangat dalam akan lebih cepat netral daripada yang tidak, dan sebaliknya.
Cara menetralkannya? Beragam! Mulai dari menghapus contact BBM, nge-block Twitter, unfriend hubungan pertemanan di Facebook, menghapus nomer handphone, dan lain sebagainya. Gak selamanya, hanya untuk sementara, yang entah sampai kapan.1 Ya ada juga yang masih tetap berhubungan, tapi kecil kemungkinan untuk cepat menetralkan perasaan dan justru mereka terjebak ke dalam gak-tau-kapan-bisa-move-on-zone™.
Ketika kalian sadar betul bahwa kalian sudah bisa mengendalikan perasaan, meski belum sepenuhnya hilang, baru lah boleh kembali menjalin komunikasi. Terkadang diperlukan untuk menghilangkan rutinitas yang biasa dilakukan saat pacaran dulu, bukan begitu?
Wanti-wanti diri sendiri untuk gak berharap lebih dari sekedar hubungan permantanan. Kasih juga batasan ke dia bahwa ini hanya sekedar menjalin hubungan baik dengan mantan. Ya ini sih kasusnya kalau kalian gak mau balikan ya. Kalau gak yakin buat balikan, mending jangan deh. Cukup BBB yang putus-nyambung, kalian jangan!

Kenapa seringkali jadi seperti orang gak kenal dengan mantan? 
Ya itu tadi. Semua orang butuh waktu untuk menetralkan perasaan. Namun, biasanya ada satu pihak yang tetap kekeuh mau balikan, tapi secara halus mengemasinya dengan frasa 'ingin berhubungan baik.' Tidak jarang pihak lainnya, dalam hal ini yang gak mau balikan, merasa muak. Karena cara berhubungan baik tersebut terkesan annoying, bagi si anti-balikan tentunya.
Pernah kan kalian merasa bahwa apa yang dilakukan si dia selalu salah di mata kalian kalau kalian sudah ilfeel? Nah itu! Tidak se-annoying seperti menurut si pihak anti-balikan, tapi karena si anti-balikan ini sudah ilfeel timbulah anggapan seperti itu. Lagi-lagi saya katakan, bahwa semua orang butuh waktu netral. Netral dari perasaan sayang dan juga netral dari perasaan kesal, muak, benci, dsb. Jadi, kalau gak mau punya hubungan hancur pascaputus, lebih baik kasih waktu. “Time heals” is bullshit, but don’t ever deny that everyone needs time. :)

Gimana sih caranya bisa akur sama mantan?
Kembali lah di waktu yang tepat, hubungi lagi saat kalian yakin bahwa perasaan kalian sudah bisa dikendalikan, pun dengan perasaan si dia yang juga sudah netral. Akur tidak melulu harus balikan. Jangan sekali-kali menyimpan harap akan balikan dengan si dia. Itu akan merusak usaha kalian untuk memperbaiki hubungan. Perasaan yang dulu bisa kembali, kenangan indah bisa menghantui, sakit hati bisa menggelayuti, dan ego untuk balikan pun tak tertandingi. Ya kalau si dia juga mau balikan, nah kalau gak? Gak jadi akur deh.
Saling support dalam hal apapun. Termasuk saat si dia dekat lagi dengan orang lain. Jadikan diri kalian berguna untuknya, begitu pun sebaliknya. Namun, ingat. Berguna bukan berarti memanfaatkan. Know your limits! :)

A good relationship with ex ini tentu harus atas kemauan dari kedua belah pihak. Tidak jarang orang yang benar-benar ingin lose contact meski mantannya tidak mengganggu. Biasanya yang menjauh itu dikarenakan dia cukup merasa bersalah, tetapi terlalu gengsi untuk mengakui kesalahan dan mencoba bersahabat.
Intinya kalau ingin memiliki hubungan baik dengan mantan, berikan waktu pada kalian untuk menetralkan perasaan, mencoba memaafkan, mencoba menerima keadaan, kembali di saat yang tepat, jangan berharap lebih dari hubungan permantanan, saling mengisi dan mendukung, yang terakhirKNOW YOUR LIMITS! :)

Tulisan ini disponsori oleh hubungan baik saya dengan mantan saya, yakni…if you know who I mean. :))

1 SAP’s quotes in our conversation pascaputus


Thursday, March 8, 2012

It's Too Late...


Perkenalkan, aku orang yang selalu menyakiti hati gadis yang kusayang. Aku membuatnya berpura-pura nyaman berada di sampingku. Postur tubuhku cukup tinggi, tetapi lebih tinggi lagi egoku. Aku pintar, tetapi tidak dalam menjaga dan mencintai gadis yang kusayang. Sekali lagi, perkenalkan...aku adalah Haykal Al-Aziz. Namun, aku lebih akrab disapa dengan Alzi.


Alzi melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Pertemuannya dengan Arinda, gadis yang disayanginya, mampu membuatnya menjadi pembalap profesional secara otodidak. Arinda baru saja membuatnya terhenyak dengan berbagai macam fakta yang dilontarkan yang sebagian besar diterimanya dengan anggukan lemas. Kata demi kata yang keluar dari bibir mungil Arinda dibenarkan oleh Alzi dengan penyesalan yang mendalam.
Seketika decit mobil terdengar sangat memekakan telinga. Alzi hampir saja menabrak seorang nenek tua yang berjalan bersama cucunya dengan membawa tas yang cukup besar, sepertinya mereka dari kampung halaman karena kejadian tersebut terjadi di depan terminal bus antar-kota. Tanpa pikir panjang Alzi langsung menghampiri sang nenek dan cucunya tersebut. Tak dinyana sikap tanggung jawab Alzi justru disambut tidak baik oleh cucu dari si nenek.
“Lo lulus SIM A gak sih? Kira-kira dong kalau mau ngebut. Ini jalanan ramai. Sok-sokan jadi pembalap!” seperti sudah dihapal beratus-ratus kali, kalimat demi kalimat tersebut terlontar dengan sangat lancar tanpa jeda dari lelaki yang merupakan cucu sang nenek. Lelaki tersebut sudah akan berdiri dari sikap bungkuk menolong sang nenek dan siap menghajar Alzi tanpa ampun. Alzi menghindar.
“Maaf banget, Mas. Bagaimana kalau saya antarkan Mas dan nenek Mas ke rumah sakit terdekat?” Alzi membungkuk menghampiri sang nenek. “Nenek gak kenapa-kenapa kan? Ada yang luka? Maafin saya ya, Nek.”
“Gak usah sok jadi pahlawan kesiangan! Pergi lo dari sini! Jangan sentuh nenek gue!”
“Hus! Aa gak boleh gitu ah. Nin1 teu nanaon da, A. Sok bantuan Nin. Nin mau bangun.” (Hus! Kakak gak boleh begitu. Nenek gak kenapa-kenapa kok, Kak. Tolong bantuin nenek. Nenek mau bangun.)
“Gue bilang pergi!”
Alzi pun meninggalkan tempat tersebut. Perasaannya semakin kacau. Semakin balau. Semakin galau.
***
“Bim, aku mau putus.” ucap seorang wanita memecah keheningan di dalam mobil, mereka sedang menuju sebuah café di kawasan Kemang.
“Hah? Kita kan gak jadian, Rin. Kok tiba-tiba putus?” ucap Bimo polos kepada wanita di sampingnya yang memiliki nama lengkap Arinda Kezia Handoyo. Ia mendelik, kemudian mencubit lengan Bimo gemas. “Hahaha. Becanda, Rin. Ah! Masa udah mau putus aja? Gue aja belum lo kenalin ke pacar baru lo. Janji lo kan abis gue balik dari Bandung bakal lo kenalin ke gue. Gimana sih?”
“Lagian kamu kelamaan di sana. Betah beneur. Udah nemu mojang Bandung nu geulis2 binti beuning ya? Haha”
“Gak usah mengalihkan pembicaraan...”
“…”
“Cerita, Arin. I'll be a good listener,” senyum itu sedikit menenangkan Arin. Arin pun bercerita...
...
“…jadi gitu loh, Bim. Dengan atau bersama dia gak ada bedanya. Terlalu banyak dari diri dia yang perlu dia ubah. Dia belum siap milikin aku…”
“Gak ada kesempatan lagi buat dia?”
“Apa gak terlalu jahat kalau aku jadikan dia manekinku?”
“Lo rela dia gak jadi bagian dari hidup lo lagi?”
“Mau sampai kapan aku nunggu dan maksain cocok sama dia?”
“Bisa gak pertanyaan gue gak dibalas dengan pertanyaan, Arinda Kezia Han…”
“Hehehe,” lesung di kedua pipi Arin muncul seiring tersungginya senyum manisnya itu.
“…doyo?” ucap Bimo lirih melanjutkan nama lengkap Arin. “Udah berapa lama sih sama dia?”
“Hm…tiga hari lagi genap tiga puluh hari.”
“Kok lo jadi kaya Aurel sih?!”
“HEH! Sial! Gak gitu. Sekarang kalau emang gak nyaman, apa aku mesti pura-pura nyaman? Pertanyaannya, mau sampai kapan? Dia terlalu sibuk dengan dunianya dia. Dia bisa have fun dengan dirinya, tapi gak bersamaku. Dia bisa membahagiakan dirinya, tapi gak dengan membahagiakan aku. Banyak hal tentang suatu hubungan yang gak perlu diucapkan secara lisan, atau dituliskan seperti terms of use suatu aplikasi, tapi anehnya dia gak pernah ngerti. Dia terlalu angkuh dan tak acuh dengan perasaan wanita, khususnya aku,” Arin menghela napas cukup panjang. Keadaan tetap hening. Bimo tau Arin masih akan melanjutkan ceritanya. “Aku sayang dia, Bim, tapi aku gak mau menyiksa diriku sendiri. Aku pikir kali ini gak akan gagal, ternyata...,” bulir air dari mata indah Arin pun berjatuhan ke pipinya. Mulai membasahi, lalu menetes jatuh ke layar ponsel Arin.
“Iya gue ngerti kok. Setelah disakitin sama Aldri lo pasti berharap Alzi akan lebih baik, bahkan jadi yang terakhir. Memecahkan rekor pacaran lo yang hampir 5 tahun. Gue ngerti itu, tapi pengharapan gak melulu berdampingan dengan kenyataan. Don't hope too much, don't expect too much, don't love too much, cause that too much will hurt you so much,” Bimo berhenti sejenak, membiarkan Arin menyerap kuliah singkatnya barusan. “Hm...kita mau masuk ke café atau putar balik?” Arin terdiam, air matanya masih mengalir, tetapi napasnya lebih teratur. “Arin...,” Bimo mencoba menyapanya lembut diiringi belaian manis di ujung kepala Arin.
“Yuk, masuk ke café! Aku gak kenapa-kenapa, kok,” ucap Arin berbohong.
There's always a little kenapa-kenapa behind every aku gak kenapa-kenapa.”
“Ah, Bimooo…!” kemudian mereka berdua pun memasuki café di kawasan Kemang itu sambil tertawa.
***
“Nda, di mana? Lagi apa? Ada waktu?” pertanyaan bertubi-tubi tersebut dilontarkan oleh seorang bersuara bass. Nanda sontak menjauhkan ponsel, melihat nama si pemanggil. Private Number.
“Alzi?” tetapi Nanda mengenalinya.
“Bisa?” dari suaranya sangat bisa ditebak bahwa Alzi tergesa-gesa. Tiga pertanyaan di awal pembicaraan saja belum dijawab oleh Nanda, ia sudah lagi memberikan pertanyaan yang bermakna ia-sangat-butuh-Nanda-saat-ini.
Free, kok. Ada apa sih?”
“Gue meluncur ke rumah lo sekarang. Bye.” sambungan terputus. Nanda memandangi ponselnya bingung, tetapi segera bergegas berganti pakaian. Sesaat kemudian, bunyi klakson seperti memerintah Nanda untuk segera turun ke bawah, menghampiri Alzi yang termenung di balik kemudi. Wajahnya pucat, matanya mengisyaratkan kekosongan.
“Zi? Are you okay?
“Hm…I'm okay not to be okay,” balas Alzi sekenanya kemudian melesat cepat dengan Mazda 2 Hitam-nya.
***
Di sisi lain, Bimo sukses menghasilkan dua lesung pipi di wajah Arin. Hebatnya, Bimo sukses membuat tawa Arin pecah. Sudah lama mereka berdua tidak menghabiskan waktu seperti ini. Bimo merindukan tawa Arin, tawa yang lepas. Bukan yang dipaksakan hanya untuk meyakinkan yang lain bahwa dia baik-baik saja.
Belakangan, Bimo memang lebih sering melihat linimasa Arin dipenuhi #puisingkat, 140 karakter yang dirangkai menjadi indah, tetapi sarat akan kegalauan. Bimo tau ada apa-apa dengan sahabat yang sangat disayanginya itu. Makanya, di hari pertama ia kembali ke ibu kota langsung disediakan waktu penuh untuk sahabatnya, Arin.
Shit!” gerutu Bimo lirih, tidak mau mengganggu Arin yang sedang asyik dengan pemandangan rintik hujan di luar. Seketika emosi Bimo tersulut melihat dua orang yang datang dari arah pintu masuk. Salah seorang dikenalnya, meski tidak baik, tetapi cukup alasan bagi Bimo untuk terus mengutukinya setiap kali bertemu. Mata tajam Bimo terus mengikuti orang tersebut, sampai akhirnya mereka melewati meja Bimo dan Arin.
“Kenapa, Bim?” Arin menyadari sahabatnya menggerutu, meskipun lirih. Arin pun mengikuti ke mana mata Bimo melangkah. “Dan itu alasan awal kenapa rasaku hilang banyak…banyak sekali kepada Alzi. Kita pulang, Bim.”
“Hah?!” Bimo tercengang mendapati Arin membicarakan Alzi tiba-tiba, lebih tercengang lagi ia mengajaknya pulang tiba-tiba.
***
Di dalam perjalanan yang entah ke mana itu Arin dan Bimo terjerat dalam keheningan. Bimo lebih ingin membiarkan Arin yang membuka percakapan.
“Kamu pengen dikenalin sama Alzi, Bim?”
If you want me to, Rin.”
“Liat gak tadi ada lelaki tinggi pakai red polo shirt yang jalan sama cewek pakai fringe tee?”
“Itu Alzi? Sama siapa? Gue boleh ngomong kasar, Rin?”
“Aku boleh cerita, Bim?”
Kapan sih, Rin pertanyaan gue gak dibalas dengan pertanyaan. Untung lo sahabat gue. “Silahkan, Rin.”
“Iya, itu Alzi. Cocok ya sama cewek itu?”
“Cantikan sahabat gue. Tinggian sahabat gue. Langsingan sahabat gue. Udah bak model aja lah sahabat gue. Cuma kurang satu…”
“Apa?” tukas Arin cepat.
“Gak ada yang rekrut,” tawa mereka pun pecah. Seketika. Hanya seketika dan kemudian kembali hening.
“Menurutmu, mereka pacaran atau cuma sahabatan?”
“Dari tawa yang terpancar sih seperti sepasang kekasih, Rin. Tapi, gesture-nya nunjukin mereka cuma sahabat. Kenapa sih?”
“Eh tadi kenapa mau ngomong kasar sama Alzi?”
“Bisa gak sih pertanyaan gue gak dibalas dengan pertanyaan, Arinda?”
“…” Arin termenung. Entah apa yang berputar di kepalanya. Sang calon mantan kekasih yang berjalan dengan wanita lain dan gertakan Bimo silih berganti menghiasi pikiran Arin.
“Hm...sorry, Rin. Gue boleh cerita?” Arin hanya mengangguk. “Tadi pas gue di terminal, gue dan Nin hampir ditabrak,” Arin langsung mengubah posisi duduk dan memperhatikan Bimo dengan seksama. “Nin jatuh, tapi untung gak kenapa-kenapa. Itu orang yang nyetir ngebut banget, Rin. Gak kira-kira ngebutnya. Nyetir di jalanan ramai udah berasa nyetir di tol dan di racing track Sentul. Gue udah hampir menghajar si Brengsek yang hampir ngehilangin nyawa gue dan Nin, tapi Nin ngelarang.”
“Terus?”
“Terus tadi gue ketemu orang itu lagi, di café tempat kita makan tadi.”
“Kok kamu gak kasih tau aku, Bim?”
“Tadi tiba-tiba lo langsung ajak gue pulang begitu gue lagi memerhatikan si Brengsek itu.”
“Emang orangnya yang mana?”
“Lelaki tinggi pakai red polo shirt yang lagi jalan sama cewek pakai fringe tee,” Bimo mengulang pendeskripsian Arin sebelumnya. Arin terhenyak, tercengang, dan bibirnya kelu. “Mobilnya Alzi Mazda 2 hitam bukan, Rin?”
“Iya...,” Arin kembali ke posisi asal, pandangannya lurus ke depan, menatapi jalanan ramai, tetapi tatapannya kosong. Arin menyadari kekacauan yang dilakukan Alzi juga bermula dari dirinya, dari pernyataannya untuk berpisah sementara atau selamanya dengan Alzi. Ia tak menyangka Alzi akan sekacau itu. Namun, seketika wajahnya memerah, dari matanya terpancar amarah. “Kalau dia bisa sekacau itu karena keputusanku, sampai hampir menghilangkan nyawa sahabatku dan neneknya, kenapa sesaat kemudian dia bisa mesra-mesraan sama cewek lain sih? AH!!!” tangis Arin pecah. Bimo mencoba menenangkannya dengan mengusap lembut ujung kepala Arin dan menepuk bahunya halus.
***
“Arin mau putus sama gue,” Alzi membuka percakapan.
“Kok bisa? Lo ngapain Arin, Zi?” tanya wanita mungil di hadapan Alzi.
“Entahlah, Nan,” ucap Alzi lemas. “Menurutnya, gue belum masuk dalam kategori siap memiliki seorang pacar, apalagi untuk jadi pacarnya Arin. Gue sadar gue yang salah. Selama ini energi gue udah habis sama wanita-wanita yang datang dan pergi dengan mudahnya di hidup gue, tanpa mereka jadi pacar gue. Gue tau itu gak bisa dijadikan sebagai alasan atas sikap gue yang udah menyia-nyiakan Arin. Gue sudah berkomitmen untuk menjalani hubungan dengan Arin, seharusnya pula gue sudah mengerti bagaimana harus memperlakukan seorang pacar dengan baik. Gue gak peka, gue terlalu sibuk, gue…gue pikir cinta saja sudah cukup. Ternyata enggak…”
Setelah penjelasan super panjang dari Alzi, keduanya terdiam. Keheningan itu menyelimuti mereka. Nanda, wanita yang berada di hadapan Alzi, tak langsung menanggapi Alzi yang tertunduk meratapi nasib hubungannya. Nanda tau Alzi begitu sayang kepada Arin, tetapi sikap yang ia tunjukkan kepada Arin tak seperti yang dilihatnya sekarang, setelah hampir kehilangan Arin.
“Zi…,” Nanda meraih tangan kiri Alzi, mengusapnya lembut. “Lo sayang sama Arin?”
“Gue perlu pasang tampang gimana lagi yang nunjukkin kalau gue cukup stress ditinggal Arin? Gue perlu nangis, Nan?” Alzi tampak gusar dengan pertanyan retoris dari Nanda. Nanda pun kaget dengan ekspresi Alzi yang begitu temperamental. “Sorry, Nan. Gak maksud kasar. Hm…ya tapi kalau dia tersiksa menjalani sama gue, gue gak akan memaksakannya. Sia-sia menjalani dengan terpaksa, terlebih dia sudah gak ada rasa…”
“Sabar ya, Zi. Mungkin jalan lo lagi terpisah sama Arin. Gak memungkiri di ujung jalan lo ketemu lagi sama Arin kan?” Nanda berfilosofi dan mengakhirinya dengan senyuman.
Alzi dan Nanda. Sulit mendeskripsikannya. Mereka bersahabat, lama. Layaknya Arin dan Bimo. Latar belakang hubungan Alzi-Nanda dan Arin-Bimo pun ada kemiripan. Sama-sama saling menyayangi, tetapi salah satunya lebih memilih untuk menjadi sahabat. Nanda, yang merasa dirinya sudah sangat nyaman dengan keberadaan Alzi di sampingnya, sebagai sahabat, sudah berkali-kali menolak permintaan Alzi untuk menjadikan dirinya sebagai pacar Alzi. Alzi-Nanda, mempunyai hobi yang sama, selera musik yang sama, sama-sama aktif di organisasi, sama-sama memiliki pengetahuan yang luas, hanya satu yang tidak sama…Alzi (masih) menginginkan Nanda menjadi pacarnya, sedangkan Nanda tidak pernah berharap itu terjadi.
***
“Bim, aku butuh ketemu sama Alzi sekarang juga. Kita puter balik,” sebagai co-supir, Arin memegang kendali akan dibawa ke mana Jazz hitam tersebut melaju. Bimo pun menuruti segala perintah Arin. Bimo hanya ingin melihat Arin bahagia, meski dirinya bukanlah alasan senyum yang tersungging ataupun lesung pipi yang muncul di wajah Arin.
Bimo menyayangi Arin seperti Alzi menyayangi Nanda. Sayang seorang sahabat yang berharap hubungannya bisa lebih dari hanya sekedar sahabat. Apa daya, Arin seperti sudah mempatri label “AMIGOS POR SIEMPRE” di kening dirinya dan Bimo. Bimo hanya ingin memastikan, bahwa tidak akan ada orang yang membuat bulir air keluar dari mata Arin. Bimo tulus kepada Arin. Dan mungkin inilah yang dinamakan cinta; bisa merelakan yang dicinta bahagia, meski tidak bersama kita.
Dari sudut matnya, Bimo melihat Alzi sedang memeluk Nanda dengan erat di depan café yang tadi dikunjunginya bersama Arin. Ia yakin betul yang dilihatnya bukan hanya ilusi semata. Bimo benar-benar melihat lelaki tinggi memakai polo shirt merah sedang memeluk wanita memakai fringe tee berwarna putih. Ia yakin bahwa itu adalah Alzi dan Nanda. Brengsek tuh cowok!
Di sampingnya, Arin sedang tertidur pulas. Mungkin Arin lelah karena sepanjang jalan tadi ia menangis tak henti-henti. Akhirnya, Bimo memutuskan untuk berhenti di Little Baghdad yang letaknya tak jauh dari café tempat mereka makan tadi. Bimo bermaksud untuk menghampiri Alzi yang kini telah mendapatkan sebutan si Brengsek dari dirinya. Tentu saja Bimo tak akan membangunkan Arin dari tidurnya. Rencananya kali ini tak perlu mendapatakan persetujuan dari sahabatnya, Arin.
Setelah memarkir mobilnya di area parkir Little Baghdad, Bimo segera menyebrang jalan dan berlari kecil menuju ke café yang dimaksud. Adegan pelukan itu pun belum selesai. Tanpa pikir panjang Bimo langsung menghantam Alzi dari belakang. Memisahkan dua insan yang sedang berpelukan tersebut. Melayangkan kepalan tangannya ke pelipis Alzi. Alzi yang terkejut mendapati dirinya diserang, tidak menyerang balik. Bimo belum selesai. Dirinya kembali menyerang Alzi, masih dengan kepalan tangan. Kini kepalan itu berpindah ke perut Alzi, membuat Alzi jatuh terjerembab. Alzi hanya bisa memejamkan mata sambil memegang perutnya, menahan sakit yang dirasa. Di sisi lain, Nanda berteriak minta tolong, tetapi orang di sekitar justru mengerubungi Alzi dan Bimo. Tidak satu pun dari mereka memisahkan Alzi dan Bimo. Mereka justru seperti membuat line arena untuk Alzi dan Bimo melanjutkan pertarungan.
Sesaat kemudian, Alzi mencoba membuka matanya. Setelah ia tersadar penuh, ia mencoba mengenali orang yang ada di hadapannya. Alzi mengenali orang itu, meski baru ditemuinya sekali ia sangat mengenali orang itu dan mengerti mengapa orang tersebut memukulinya seperti sekarang. Makanya, Alzi tak berusaha membalas.
“Gue kan udah minta maaf. Gue udah mau ngebawa lo dan nenek lo ke rumah sakit, tapi lo nolak,” keadaan yang tadinya riuh berubah menjadi hening seiring Alzi yang membuka percakapannya dengan Bimo. “Gue mesti apa lagi supaya lo mau ngemaafin gue?”
“Jangan coba-coba nyakitin Arin lagi, BRENGSEK!” satu tinju meluncur di pipi kiri Alzi. “Setelah hampir ngehilangin nyawa gue dan nenek gue, lo masih berani nyakitin sahabat gue? Satu cewek aja gak bisa lo urus, lo udah meluk-meluk cewek lain,” diliriknya Nanda dengan tatapan setengah iba.
“Itu gak seperti yang lo pikir. Gue bisa jelasin. Gue sayang sama Ar…”
“BANYAK BACOT LO!” satu tinju lagi mendarat di pipi kanan Alzi.
“UDAH-UDAH! STOP IT, PLEASE! Tolong, Mas. Jangan sakitin Alzi lagi. Bisa kan kita selesaikan dengan cara kekeluargaan? Malu, Mas dilihat orang-orang,” Nanda melihat sekeliling, kemudian pandangannya kembali kepada Bimo, memohon. “SEMUANYA TOLONG BUBAR!!!” Nanda mencoba menggusur orang-orang kepo yang sejak tadi hanya melihat pertarungan Alzi-Bimo tanpa membantunya melerai. Satu tinju lagi mendarat di perut Alzi sebagai tanda perpisahan. Alzi hanya bisa mengerang, lagi-lagi tanpa penyerangan balik. Bimo pun berdiri, sudah akan meninggalkan Alzi dan Nanda. Namun, seketika…
“BIMO…!!!”
SELESAI
1 Nin, nenek dalam bahasa Sunda
2 Geulis, cantik dalam bahasa Sunda

Sunday, December 4, 2011

Second Chance


Aku kangen kamu…banget.
Maaf karena aku udah lancang ganggu kamu lg.
Gak usah dibales gak apa2 kok, aku cm mau kamu tau…

Sejak setengah jam yang lalu, Ditri tak henti beradu pandang dengan layar ponselnya. Dengan waktu 30 menit itu pula, ia hanya mendapatkan 118 karakter. Ditri bukannya baru memiliki ponsel  atau baru tau caranya mengetik SMS, sehingga dalam waktu 30 menit baru mendapatkan 118 karakter. Bukan, bukan itu. Ia telah berulang kali menghapus draft pesan yang telah dibuatnya, kemudian mengetiknya lagi, seterusnya seperti itu. Kalau kata hestek Twitter sih… #rauwisuwis. :))
Aku tuh sakit kalau inget kamu. Aku berusaha sekuat tenaga untuk gak inget kamu dan itu gak mudah. Tolong…jangan ganggu aku dulu.
Kata demi kata dari pesan singkat yang dikirimkan Alzi waktu itu membuatnya ragu untuk menekan tombol send di ponselnya. “Kalau gue kirim ini, gue nyakitin dia. Kan dia lagi berusaha untuk tidak mengingat gue…” Ditri kembali menghapus kata demi kata dalam draft yang telah dibuatnya, kemudian mulai merangkai lagi kata-kata yang tadi telah dihapusnya.
Aku gak akan tanggapin kamu lagi. Ini tanggapan terakhir aku. Ini demi kebaikanmu, kebaikanku, dan kita. Gak selamanya, hanya untuk sementara, yang entah sampai kapan. Maaf, Dit…
Lanjutan pesan singkat Alzi kembali menghantui pikirannya. Memunculkan rasa bersalah, menurunkan hasrat untuk mengungkapkan rasa rindunya. “You sure, Al?” seketika semangatnya kembali penuh. Dengan segala keberanian, ia pun menekan tombol send. Message SENT!
Jangan ditanya apa yang Ditri rasakan setelah ibu jarinya menekan tombol send. Sudah pasti berkecamuk. Antara lega, tapi takut mengganggu Alzi, terlebih sedih jika ternyata Alzi benar tidak akan menanggapinya. Sebentar-sebentar Ditri melihat layar ponselnya, hanya untuk memastikan apakah ada pesan masuk atau tidak. Tidak jarang ia merasa bahwa ponselnya bergetar, padahal tidak. Sebegitu kesepiannya kah seorang Vanditri Yamile Handoyo?!

Bunda
+628121718XXXX

Dek, kamu sehat?
Kacamata kamu kemana toh?

“ASTAGHFIRULLAH!!! Ditri bodoh. Bisa-bisanya salah kirim! Malu demi apapun. Demi penguasa bumi dan surga malu banget. Ditri bodoh! Bodoh! Bodoh!” tak habis-habisnya Ditri memaki dirinya sendiri sambil melakukan gerakan mengetuk meja-mengetuk kening-mengetuk meja-mengetuk kening.

Anakku Vanditri
+628121965XXXX

Bun, maaf aku lg gak konsen.
:*

Dari lantai 17, tempat ibunda Ditri bekerja, ia hanya bisa tersenyum mendapati balasan SMS dari sang anak. Ia mengetahui bahwa putrinya sedang berbohong kepadanya. Tanpa Ditri bercerita, ia pun mengetahui bahwa putrinya sedang mengalami masalah cinta dengan anak lelaki yang ia beri kepercayaan untuk menjaga putrinya, lelaki itu tak lain adalah Alzi. Ya begitulah naluri seorang ibu. Di sisi lain, Ditri masih kalang kabut mendapati dirinya salah kirim SMS, kepada ibunya pula. Ia pun langsung mem-forward SMS tadi dan dikirimkannya kepada Alzi. Berulang kali ia memastikan bahwa di kolom penerima adalah kontak dengan nama Maulana Herditya Al-Aziz. Message SENT!
Ditri pun merasakan kembali cita rasa lega, takut, dan sedih yang bercampur menjadi satu. Empatpuluh lima menit berlalu ponselnya tak menandakan ada pesan yang masuk. Perasaan sedih pun mulai menggerogotinya. Ia pun melihat laporan pesan yang dikirimkan.
“Terkirim…” gumamnya. “Seharusnya gak selama ini deh Alzi bales SMS. Apa dia lagi sibuk? Atau udah tidur ya? Ah! Bodo deh! Di SMS kan gue juga bilang gak minta tanggapan dari dia, kenapa gue malah jadi ngarepin banget ditanggepin?”  putus asa pesannya tak kunjung mendapat tanggapan, Ditri pun membuka laptopnya dan mulai mengerjakan tugas. Namun, tetap saja tergoda untuk membuka segala social network. Baginya membuka social network itu ritual yang harus dilakukan sebelum mem-browsing materi tugas. Katanya sih, bisa menambah semangat untuk mengerjakan tugas. Ya jelas lah itu cuma teori kusutnya seorang Ditri, hanya #halahsan. :))
“Hm…online Twitter bisa, bales SMS gue gak bisa.” antara marah dan sedih ketika didapatinya Alzi berkeliaran di timeline Twitter.

Nabila Adinda Yakub
+628561003XXXX

Kak!! Td kak Alzi curhat sm ak.
Dia blg dia kangen bgt sm kakak.
Cm dia galau mau bls sms kakak.
Kalian balikan dong! :’(
Ak kangen kak Diciii. :*

Al… Bila udah 17 tahun dan terhitung dewasa. Dia udah bisa dipengaruhi dan diajak kompromi. Tapi sifat polos dan gak pernah bohong layaknya anak umur 7 tahun itu juga masih melekat pada diri Bila kan? Bila serius kan? Al… kenapa gengsi kamu gak bisa diturunin dikit sih?! Baju di butik aja bisa diskon, masa gengsi kamu enggak?!

To: Nabila Adinda Yakub
Oh ya? Hahaha lucunya kakakmu itu.
Anyway, miss you too Bila! :’)

***
Ruang Baca, 20:15
“Bil, bantuin kak Alzi bikin surprise buat kak Ditri mau gak?”
“Emang kak Ditri lagi ulang tahun? Mau-mau aja. Kak Al berani bayar aku berapa?”
“Yeee! Wanita bayaran dasar! Gampang lah itu. Kalau nanti berhasil aku traktir nonton sama makan deh. Hm…bukan ulang tahun, tapi aku mau ngajak kak Ditri balikan.”
“Yakin kakak mau balikan? Emang sebenarnya kalian itu putus kenapa sih?”
“KEPO!!!”, Alzi pun melempar adiknya dengan bantal sofa yang ada di sampingnya, kemudian ia pergi meninggalkan ruang baca.
“KAK AL!!! SAKIT! GAK AKU BANTUIN NIHHH…!” teriak Bila dari dalam ruang baca yang didengar Alzi sayup-sayup dari kamarnya yang terletak di seberang ruang baca.
Di kamar, Alzi merenung memikirkan sang mantan kekasih, Ditri. Potret dirinya dan Ditri dalam khayalnya mengembalikan kenangan masa lalunya. Sudut-sudut Jakarta yang penuh kenangan, tingkah laku Ditri yang menggemaskan, rangkaian mimpi bersama Ditri tentang masa depan, segalanya tentang Ditri dan dirinya dihadirkan ke hadapan. Ia rindu kepada Ditri. Namun, ia terlanjur mengucapkan kata-kata seperti tak-akan-menghubungi-Ditri-lagi. Alzi pun terlelap bersama pikirannya tentang Ditri.
***
“Dit, temenin aku nyari buku, yuk! Kakakku ulang tahun bentar lagi. Seleramu kan sama dengan dia. I need your advice, Sweetie pie!” suara bass dari balik telepon itu tak asing bagi Ditri. Jelas, pemilik suara itu selalu menemani Ditri saat ia kesepian. Mengembalikan gelak tawa pada bibir Ditri saat bibirnya mulai maju 5 cm mengalahkan boneka Tweety kesayangannya, bahkan hanya untuk mendengarkan isak tangis Ditri selama berjam-jam pun sang pemilik suara rela-rela saja.
“Hei, Ben! Apa kabar kamu? Pucuk di cinta ulam pun tiba banget nih.”
“Kenapa? Ada air mata yang terbuang sia-sia lagi? Yuk ketemu makanya. I’ll be your listener, Dit.”
“Hari ini? Emmm...”
“Boleh. Aku jemput kamu jam 3 sore. Gak usah dandan ya, Dit. Tanpa dandan kamu udah cantik. Hahaha...”
“Sempet aja ngegombal. Hahaha. Oke, bos! See you, ya!”
Percakapan lewat udara pun terputus. Ditri pun menyiapkan dirinya untuk bertemu dengan Ben. Namun, ditengah kesibukannya bersiap-siap seketika ia tersadar akan sesuatu. Kemudian, ia pun terduduk di kursi samping meja belajarnya.
Tuhan, kenapa Ben selalu datang di saat yang tepat, padahal menurutku dia bukan orang yang tepat? Kita berbeda, Tuhan… Namun, mengapa selalu dia yang menghibur, selalu dia yang ada, selalu dia yang menjadi penawar atas rasa sakit yang dibuat oleh orang lain?
TIN…TIN!!!
“Non, den Mario sudah menjemput tuh.” teriak Bi Sumi dari bawah.
“Iya, Bi. Bentaaaaar…” balas Ditri. “Mampus lah gue. Ngelamunin ini orang tiba-tiba udah di depan rumah aja. Jin rupanya si Ben ini.”

Benjamin Mario Soeriaatmadja
+628121817XXXX
Calling…

“Halo, Dit! Aku udah di bawah nih. Turun cepet.”
“Hehehe. Bentar ya tadi aku ketiduran.”
“Ya Tuhan kebo!!! Buru!”
“Kamu masuk dulu deh. Gak enak aku jadinya.”
“Gak usah aku di mobil aja. Cepat ya, cantik.”
***
Gramedia GI, 16.45.
“Nah! Ini aja! Aku belum baca soalnya. Kali-kali bisa minjem sama kak Sandra kan ntar. Hehehe…” seperti berhasil menemukan harta karun saat Ditri menemukan buku yang dicarinya tersebut. Tigapuluh menit sudah mereka mengelilingi toko buku itu, menyanggahi rak demi rak, sudut demi sudut, dan akhirnya terpana pada satu buku.
“Gak novel ringan aja gitu? Yakin kak Sandra suka? Aku jarang liat dia koleksi buku ini.” kening Ben mengerut.
“Hmmm… Suka deh pasti. Kan satu selera sama aku. Lagian buat hadiah ulang tahun kok ngasih novel ringan. Itu sih dia bisa beli sendiri. Aku waktu itu sempet ngobrol sama dia gitu dan kita sama-sama belum baca buku-buku ini.”
“Baik, Nona Vanditri Yamile Handoyo. Saya nurut.” mereka pun berjalan menuju kasir dengan membawa Boxset Chicken Soup For The Soul yang menjadi pilihan Ditri dan Ben untuk sang kakak.
***
“Sore. Dengan keluarga Handoyo disini. Ada yang bisa saya bantu?”
“Bi Sumi? Ini Alzi, Bi. Ditri ada gak?”
“Oh den Alzi. Kirain siapa. Gak ada, Den. Non Ditri tadi jam tigaan dijemput sama den Mario.”
DHEG!!! Seketika dada Alzi seperti ditikam.
“Oh…”
“Ada apa Den Alzi? Apa ada pesan buat Non Ditri?”
“Eh nggak, Bi. Jangan bilang kalau saya nelpon ya, Bi. Saya mau ke rumah sore ini. Makanya saya mau memastikan Ditri di rumah apa gak dan kira-kira jam berapa pulangnya kalau memang lagi pergi.”
“Kebetulan lagi gak di rumah, Den. Tapi, bibi gak tau tuh bakal pulang jam berapa. Memangnya ada apa, Den?”
“Nanti aja dijelasin di sana ya, Bi. Saya sekarang menuju ke sana ya, Bi.”
“Baik, den.”
Saat Alzi menelpon kediaaman Ditri, Alzi sudah berada di jalan menuju ke rumah Ditri. Sehingga waktu yang ditempuh pun tidak begitu lama.
“Gimana, kak? Aman?” tanya Bila begitu sang kakak selesai bicara dengan bi Sumi.
“Aman. Kita kerja cepet, ya! Gak tau nih Ditri balik jam berapa.”
“Memang kak Ditri kemana?”
“Jalan sama Ben.”
“APA?!”
***
Magnum Café GI, 17:20.
“Coba cerita sama aku, kamu kenapa, Dit?” Ben mencoba membuka percakapan.
“Aku kangen sama Alzi, Ben...”
Sudah aku duga, Dit. Masih dia yang ada di hati kamu ya? Hmmm... Kalaupun bukan aku yang ada di hati kamu, aku cuma mau liat kamu tersenyum, sama siapapun itu. Aku rela…
“Ben...” Ditri mencoba menyadarkan Ben dari lamunannya. “Ben...” Ditri masih mencoba menyadarkan dengan mengarahkan tangannya ke arah wajah Ben. “BEN!!!” Ditri habis kesabaran dan agak berteriak sehingga orang-orang di sana memperhatikan mereka sejenak kemudian berbisik-bisik.
“Hah? Kenapa, Dit?”
“Ha! Hi! Hu! Bengong aja ih! Cabut, yuk!”
“Kamu udah tenangan?”
I’m fine, Ben.” Ditri tersenyum, kemudian mereka pun pergi meninggalkan café itu.
Malam itu jalanan di tengah Jakarta sangat tidak bisa diajak kompromi. Hm...sepertinya hampir setiap hari, sih tidak bisa diajak kompromi. Namun, kali ini benar-benar tidak bisa ditoleransi lagi.
“Ini namanya parkir gratis, Dit! Bisa ke Bandung nih kita dari tadi. Dua setengah jam belum sampai rumah kamu juga. Ergh...” keluh Ben kepada co-supir-nya, Ditri.
“Sabar, Ben. Kan gak baru sehari tinggal di Jakarta. Mau aku gantiin nyetir?” Ditri mencoba menenangkan.
“Gak perlu, sayang. Kamu duduk aja di situ.” Ben pun kembali fokus menyetir, kemudian membelokan setirnya ke arah kiri.
“Loh? Kok kita lewat sini?”
“Lewat jalan tikus, Dit.” Ben tersenyum, Ditri pun percaya.
“Aku baru tau ada jalan tikus loh...” keadaan hening sejenak, tetapi kemudian...
“Eh, kita mau ngapain? Kok berhenti di sini?” tanya Ditri setengah panik.
“Udah ikut aku aja, yuk.” Ben pun membukakan pintu mobil dan menuntun Ditri jalan. Ditri pun mengikuti Ben dengan perasaan was-was.
“Mau ngapain...?” tanya Ditri lirih, jantungnya berdebar, tangannya mulai dingin.
“Hahaha... Gak usah takut, sayang. Aku cuma mau berdoa. Mau nemenin kan?” jawab Ben lembut berusaha menenangkan Ditri yang ketakutan. Mereka berdua pun masuk ke dalam gereja. Saat Ben berdoa, Ditri duduk tiga meja ke belakang dari tempat Ben berdoa. Ditri memandangi Ben yang khusyuk berdoa, dirinya tersentuh. Ben, andai kamu seagama denganku, kamu pasti akan menjadi imamku yang taat...
“Yuk, pulang!” seketika Ben menghamburkan lamunan Ditri.
“Eh? Udah doanya? Itu apa yang kamu genggam?”
“Udah kok. Ini namanya rosario. Aku selalu bawa ini kemana-mana. Rosario ini juga pemberian dari almarhum papaku.” Ditri pun mengangguk tanda mengerti. “Ini gerejaku, Dit. Aku biasa ke sini setiap Minggu sore. Sering juga kalau lagi gak ada kerjaan dan punya masalah, aku curhat sama Tuhan.”
“Tadi kamu doa apa?”
“Mau tau aja apa mau tau banget apa mau tau banget banget?” Ben bertanya balik sambil bercanda yang hanya ditanggapi Ditri dengan renyah tawanya.
Aku berdoa supaya kita bisa bersatu, Dit...
***
Waktu telah menunjukkan pukul 23:40. Ben langsung pulang tanpa mampir dahulu ke rumah Ditri karena waktu yang tidak memungkinkan. Setelah itu, Ben memberi kecupan di kening sebagai tanda perpisahan dan menitipkan salam untuk papa dan mama Ditri. Rumah Ditri pun sudah sangat sepi. Hanya lampu taman serta lampu ruang keluarga yang menyala. Seluruh kamar sudah gelap, menandakan bahwa seisi rumah ini sudah tidur. Ditri masuk dengan mengucapkan salam, walaupun ia tau bahwa tak akan ada yang menjawab.
Untuk mencapai kamarnya ia harus menaiki anak tangga yang berjumlah 13. Setelah mencapai bordes, ia terdiam sejenak, merasakan kelelahannya hari ini. Ia pun melanjutkan menaiki sisa anak tangga itu. Sesampainya di depan kamar ia dikejutkan oleh serpihan foto dirinya bersama Alzi yang telah ditata agar kembali ke bentuk semula. Meski tidak sempurna, gambar dirinya dan Alzi cukup jelas terlihat. Ia bingung mendapati hal tersebut, tetapi ia tak pikir panjang dan kemudian masuk ke kamar.
“Aku tau aku bukan matahari yang selalu menyambutmu setiap pagi. Aku juga bukan bulan ataupun bintang yang selalu menemani gelap malammu…” dua kalimat itu kembali membuat Ditri terkejut. Suara yang tak asing bagi dirinya. “Aku pun tau, aku bukan pelangi yang menghiasi indahnya langit kala tetesan air dari Tuhan telah usai. Aku bukan karang yang tegar kala ombak menghadang. Aku lemah, aku rapuh, aku jauh dari sempurna, aku tau itu, aku sadar. Namun, satu hal yang aku tau. Kau lah matahariku, kau lah bulan dan bintangku, kau lah pelangiku, dan kau lah yang menguatkan aku…1” keadaan hening sejenak. Ruangan Ditri pun terang dengan nyalanya lampu-lampu kecil yang membentuk tulisan “Te amo mi princesa!” Ditri terkejut, tak menyangka akan mendapatkan kejutan seromantis ini. Memang bukan bunga, coklat, ataupun boneka. Namun, semua hal ini membuatnya terenyuh.
“Alzi…” ucapnya lirih.
“Selalu ada kesempatan kedua kan, Dit? Aku janji bakal memperbaiki semua yang kurang sebelumnya di hubungan kita. If you want me to, Hun. So… Mau kan kamu balikan sama aku?”
***
Burger & Grill Tebet, 20:30.
Gelak tawa itu, gelak tawa yang dirindukan orang-orang terdekat Ditri, kembali hadir di bibirnya. Lesung di kedua pipinya menambah kemanisan di wajah Ditri. Tak henti-hentinya ia tertawa sejak tadi. Tiga orang di hadapannya telah menghiburnya, membuatnya lupa sejenak akan beban tugas dan masalah hidup yang dipikulnya.
“Ok! Jadi, kakak gak usah traktir makan dan nonton kan, Bil? Kalian dong yang traktir kita. kan kalian baru jadian.”
“Gak bisa gitu, kak Alzi! Kalian kan juga baru balikan! Wo!!!”

SELESAI

1 Sebuah puisi berjudul Untitled karya Diar Luthfi Khairina (Jakarta, 2009)