Showing posts with label Letter. Show all posts
Showing posts with label Letter. Show all posts

Thursday, February 6, 2014

Untuk Kamu yang Adalah Aku

Teruntuk wanita berlesung pipi mungil di sebelah kanan.

Apa kabarmu? Akan aku tebak. Kamu sedang sibuk mengerjakan proposal skripsi yang harus diserahkan progress-nya pada hari Senin kepada dosen pembimbing, sedangkan Kamu tidak punya banyak inspirasi untuk mengerjakannya dan lebih produktif untuk mengikuti proyek #30HariMenulisSuratCinta yang diadakan oleh @PosCinta. Benar? Aku bukan peramal, Aku tau sebab Aku adalah Kamu.

Wednesday, February 5, 2014

Sepasang Keindahan

Kamu diciptakan untuk melihat. Kamu diciptakan untuk memandang indahnya dunia. Kamu diciptakan agar pemiliknya tau betapa Maha Kuasa Sang Pencipta. Iya, sudah semestinya kamu tercipta seperti itu. Terima kasih sangat besar kuhaturkan pada Tuhan atas penciptaan dirimu.

Kamu adalah sumber kejujuran. Dari kamu, manusia mengetahui apakah lawan bicaranya mengatakan yang sebenarnya atau tidak. Dari kamu, seorang wanita mengetahui apakah tatapan seorang lelaki mengisyaratkan sebuah cinta atau tidak. Dari kamu, seorang lelaki menemukan tempat ternyaman untuk berteduh saat ia menatapmu di wajah seorang wanita.

Aku adalah salah satu yang menilai kecantikan atau ketampanan seseorang dari dirimu. Menurutku, kamu adalah panca indra paling indah yang dimiliki manusia. Namun, aku tak pernah suka saat ada air mengalir dari dirimu. Mengisyaratkan sesuatu yang lebih sering adalah tidak baik; kepergian, kegagalan, kekecewaan, dan kesakitan.

Cukup sampai sinilah suratku untukmu. Namun, aku takkan pernah berhenti mengagumimu.

Monday, February 3, 2014

Sakau; Sakit (Jiwa) Karena Engkau

Dear, hewan tidak mandiri yang harus berjalan dengan bantuan tangan manusia.

Sosokmu begitu memesona (pada awalnya). Di era modern seperti ini, kamu hadir dengan gaya retro pixel-art. Di saat misi orang ingin menyelamatkan dunia, kamu hadir dengan misi melewati pipa-pipa yang mungkin milik dari Mario atau Luigi. Di saat burung lain berjalan menggunakan sayapnya, kamu bahkan tidak bisa berjalan tanpa bantuan tangan manusia.

Sunday, February 2, 2014

Untuk yang Paling Setia Antar-Jemput

Teruntuk Supir Angkot…

Nooo! Saya punya pacar dan pacar saya bukan supir angkot. (Langsung jawab ‘no’ padahal belum ada yang nanya juga.)

Dear, Supir Angkot. Saya adalah seorang mahasiswi yang sehari-hari ke kampus lebih sering diantar Anda daripada diantar papa atau pacar saya. Atas intensitas saya yang lebih sering diantar Anda, saya ingin mengungkapkan beberapa keluh-kesah saya selama diantar Anda supaya nantinya bisa dijadikan motivasi untuk lebih baik ke depannya. *(doze off)*

Saturday, February 1, 2014

Surat Cinta untuk Navyzers’ Navy’s Store...

Hi, Navyzers. Ya. Begitu saya menyebut mereka, para customers setia online shop yang saya miliki. Saya tidak begitu ingat dengan pasti kapan saya mulai berbisnis di dunia online shop. Yang jelas, saya mulai mengepakkan sayap Navy’s Store di Twitter pada 26 Oktober 2012.

Time flies so fast. Tak terasa sudah lebih dari setahun saya berprofesi sebagai pemilik sekaligus admin di balik semua social media yang dimiliki oleh Navy’s Store. Banyak suka-duka di antara limpahan rezeki yang diberikan Tuhan melalui Navy’s Store yang ingin saya bagi dengan para customer saya.

Sunday, March 17, 2013

Tuhan, Tolong Jaga Senyumnya...

Tuhan, aku tahu kau Maha Penyeimbang. Tak akan kau beri kesedihan tanpa kebahagiaan di akhirnya. Pun sebaliknya.
Terima kasih telah memberikanku orang-orang yang selalu ada untuk sekedar bertanya ‘sudah makan?’, ‘sudah tidur?’, atau ‘sudah agak enakan sekarang?’ Pertanyaan-pertanyaan simple yang menyentuh lubuk hatiku. Pertanyaan-pertanyaan yang membuatku merasa pantas berpijak di muka bumi. Pertanyaan-pertanyaan yang perlahan membantuku terbangun dari jatuhku dan menopangku.
Terima kasih telah memberikanku orang-orang yang selalu ada untuk menenangkanku dengan doa-doa baiknya, dengan saran-saran manis, semisal 'Semua hal baik yang bisa diselesaikan, pasti akan menunggu. Jangan takut tidur.’ ketika aku mengalami somniphobia.
Terima kasih telah memberikanku petunjuk kepada siapa aku harus berbagi, petunjuk orang-orang yang benar-benar peduli bukan sekedar ingin tau lalu pergi.
Terima kasih, Tuhan. It’s such a great thing to have friends like @asndys, @mutiaamalia, @bchastity, and @peybunga. I love them. So much.


Tuhan, jaga mereka. Jaga senyumnya agar selalu ada di wajahnya. Atas segala yang mereka beri supaya aku tetap tersenyum. Terima kasih.


Friday, March 15, 2013

Semoga Sadarmu Tepat Waktu


Kurasa kau perlu tau, meski mungkin kau tak memerdulikan, yang terpenting aku telah memberitahukanmu. Mungkin suatu saat kau akan tersadar atau tetiba teringat padaku. Jadi, tak ada salahnya aku memberi tahumu. Supaya seperti yang kubilang tadi, mungkin suatu saat kau teringat padaku.
Kamu, aku (pernah) menyayangimu dengan sebegitunya. Bacalah kata dalam kurung itu, jika saat kau membaca ini kau sudah bersama yang lain. Supaya aku tak membebanimu untuk memilih.
Aku bahkan lupa rasanya sakit ketika aku disakiti dengan tidak sadar olehmu. Karena sebegitu sayangnya aku padamu. Sayang ini mengalahkan segalanya, bahkan rasa sakit yang kau buat.
Aku berusaha tak memerdulikanmu. Namun, ketika itu terjadi penyesalan yang justru datang. Aku tetap ingin tau tentangmu, meski dari orang lain. Cukup. Asal aku tau tentangmu, di saat mungkin kau tak ingin tau tentangku. Tak apa. Sebegitu sayangnya aku.
Sabar ini berbatas, Kamu. Aku menyesali kau yang melunjak dengan toleransi yang kuberikan. Andai kau tak seperti itu, mungkin Kita masih bersama sekarang.
Kamu, aku hanya ingin kau tau bahwa aku menyayangimu sebegitunya. Meskipun kau tak pernah menyadarinya.
Harapku, semoga sadarmu tepat waktu.

Monday, April 30, 2012

Julie di Bulan April


Berlin, den 30. 4.
Liebe Julie...
Engkau satu dari sekian banyak wanita menawan yang kutemui, tetapi hanya satu-satunya yang mampu menyapa hatiku yang sepi. Parasmu cantik, pun hatimu. Aku sedang tidak nyepik seperti yang dilakukan lelaki-lelaki di linimasa-mu. Iya, aku menjadi stalker-mu. Kini kau tak perlu pakai aplikasi virus hanya untuk mengetahui siapa yang mengecek timeline-mu setiap hari. Pasti banyak, tetapi selalu aku...
Hatiku berkata engkau sedang baik-baik saja, kuharap hatiku benar. Selalu benar, sih. Seperti saat memilih wanita dan hatiku jatuh padamu. Terjegal lesung di kedua pipimu dan sikap manismu saat bertemu denganku di lobby Rumah Sakit Santa Borromeus, Bandung.
Bagaimana April-mu? Setampan wajah April-mu yang dulu kah? Maksudku aku. Ah, aku hanya bergurau. Tak pernah kau panggil aku tampan, dulu. Selalu kau panggil 'jelek.' Tak apa, asal kau ucapkan hanya padaku. Lebih baik daripada panggilan 'sayang' yang di-broadcast ke entah siapa aku enggan melanjutkannya...
Sudah kah kau hampiri pusara ayahmu, Julie? Sudah kah kau taruh se-bucket bunga mawar putih kesukaannya? Jika kau pergi ke sana lagi, sampaikan salamku padanya. Maaf aku belum sempat mengunjungi beliau. Suatu saat, pasti. Terakhir tentang ayah...sudah ikhlas kan, Julie? Ini sudah tahun ketiga. Aku harap sudah...
Bagaimana kabar Kayla? Sekolah di mana si manis itu sekarang? Aku harap kejadian tiga tahun lalu tak menghalangi si manis untuk bersekolah. Tak pula menghalangi bakat yang dimiliki untuk dikembangkan. Tanamkan pada diri Kayla untuk tak mendengarkan cemooh orang lain, Julie. Aku tau itu pasti berat untuk Kayla, tapi aku yakin Kayla bisa menghadapi hidupnya yang tak lagi sempurna--dalam arti sesungguhnya--seperti tiga tahun yang lalu...
Kabarku? Tak inginkah kau tau? Tak perlu kau jawab, kau pasti tau aku akan tetap bercerita meski jawabanmu adalah tidak. Aku sudah akan menyelesaikan S2-ku di Berlin, Julie. Secepatnya akan kembali ke Indonesia, hanya sebentar. Maukah kau menemuiku yang telah meninggalkanmu tiga tahun yang lalu?
Aku hanya ingin memastikan kau tak membenci bulan April-mu lagi, Julie. Sudah tiga tahun, tak maukah kau memaafkan bulan April-mu? Aku harap selalu ada hal yang membuat April-mu indah dan mengikis kebencianmu kepadanya. Mungkin aku, alasannya. April-mu yang dulu...
Maafkanlah April di hari terakhirnya, Julie. Wir sehen Sie uns in Indonesien!
mit Liebe aus Berlin,
Aditya Aprilio

Thursday, April 26, 2012

3,5 Tahun yang Lalu...

Hai, insan yang tak pernah tak kurindukan.
Tak perlu kuawali dengan bertanya tentang kabar. Aku tau kau baik-baik saja di sampingnya. Perlukah kuberi tau tentang kabarku? Hm...aku selalu merasa tak baik jika tak bersama kau, meski sebenarnya aku baik-baik saja, tetapi selalu ada yang kurang. Kehadiranmu gula bagi kopi hitam yang buatku terjaga, roti bagi susuku di pagi hari, garpu bagi pisau saat aku makan steak kesukaan kita, kau pelengkap bagi diriku...sayang.
Mungkin ini lebih penting bagi kau--kabar tentang Arya. Arya sudah semakin besar. Mungkin kau lupa, tiga hari yang lalu Arya berulang tahun yang ke-4. Wajahnya datar, tetapi kuyakin dalam hatinya bergejolak riang. Mengapa kau tak datang ke ulang tahun Arya? Aku mengirimimu undangan ulang tahunnya, bukan? Aku tau Bi Uci pasti menyampaikannya kepadamu. Kurasa dibalik wajah datar Arya, ia menyimpan harap akan kedatanganmu. Aku, Arya, akan masih menerimamu di rumah. Tangan kami terbuka untuk kau. Bagiku, yang lalu adanya di masa lalu. The past stays in the past…kecuali jika kau mau kembali menjadi masa kini-ku. Haha. Aku hanya bergurau.
Mengapa kau terus bersikap dingin? Seolah tak kenal. Selalu menghindar. Kuakui kau memang salah pada hari itu. Namun, Arya telah memaafkanmu. Percayalah! Mungkinkah ini caramu untuk melupakan? Atau karena kau teramat merasa bersalah? Aku memang takkan pernah lupa akan hari itu, tiga setengah tahun yang lalu...
“Tolong jaga Arya sebentar. Ibu mau ke rooftop angkat baju, sepertinya akan hujan.”
Aku pun masih ingat kata demi kata yang terlontar dari bibir Ibu saat itu. Kita pun menjaga Arya dengan tawa. Seperti mempersiapkan atas angan-angan kita berdua. Menimang Arya penuh kasih sayang, aku seperti yakin kau lelaki yang tepat untuk malaikat-malaikat kecilku kelak.
“Arya lucu banget sih kayak kakaknya. Uuu...”
Godaanmu itu menggodaku. Aku tersipu, tetapi tak lama. Seketika semua berubah 180 derajat. Kepanikan menyelimuti. Aku berteriak memanggil Ibu. Ibu berlari dari atas rooftop melewati anak tangga. Langkah kaki yang beradu dengan tangga kayu itu menampakkan ketergesa-gesaan, kekhawatiran, dan kecemasan Ibu atas sang anak. Sementara kau terus memeluk Arya, mengguncangkan tubuhnya supaya ia terbangun, serta mengusap darah yang ada di dahi Arya.
BRAK!!!
Aku kembali ke saat di mana Arya kau lepaskan dengan bodohnya. Ia hanya anak bayi lima bulan yang tak mengerti caranya buang air kecil, Sayang. Maafkan aku dan Ibu karena membiasakan Arya memakai diapers dan lupa memakaikannya pagi itu. Untuk pertama kali aku melihat kau menangis, aku tau tetes itu gambaran sesalmu. Untuk pertama kali pula aku melihat Ibu menamparmu. Hatiku hancur lebur. Kacau. Balau. Galau…
Ibu tak mengusirmu, tetapi mengacuhkanmu. Saat kau mengantarkan kami ke rumah sakit, saat kau meminta maaf, saat kau ingin bertanggung jawab atas semua biaya perawatan dan pengobatan Arya. Ibu seperti tak akan memaafkanmu seumur hidup. Namun, percayalah. Kau masih punya aku dan Arya, yang memaafkanmu meski kau sakiti aku dan Arya--dengan cara berbeda.
Ini surat ke-3 yang aku kirim--dan (selalu) berharap kau akan membalasnya. Selalu selepas ulang tahun Arya. Aku hanya ingin memastikan alasanmu tak hadir dan meyakinkanmu bahwa aku dan Arya sudah memaafkanmu. Ibu? Mungkin sudah, pelan-pelan... Ibu hanya sangat terpuruk mendapati Arya menjadi seperti sekarang, tak berdaya. Arya di rumah seperti pengganti Ayah. Kau pasti tau kehadiran lelaki dibutuhkan di rumah dan ibu berharap pada Arya, tetapi kau merusaknya. Ibu hanya belum sembuh dari sakit yang kau buat. Suatu saat pasti sembuh. Percaya padaku.
Kau pergi tinggalkan aku dengan alasan kesalahan fatalmu. Padahal berlari dari masalah bukan berarti akan dimaafkan. Tetaplah disampingku, bantu aku sembuhkan sakitku, bantu Arya bangkit dari keterpurukan, bantu Ibu menerima kenyataan…
Aku telah mengejarmu, tetapi kau terus berlari, bahkan telah menemukan pengganti untuk terus mengejar mimpi yang sebelumnya kau rajut bersamaku. Aku telah berteriak untukmu, tetapi kau tak juga menoleh. Aku seperti sudah kehabisan suara. Ini terakhir kali aku berteriak untukmu. Waktumu masih ada, sedikit lagi...sebelum aku tak menghiraukan teriakanmu, tak menoleh padamu.
Dariku yang selalu memaafkanmu dan (masih) mengharapkan kehadiranmu...

Monday, April 16, 2012

Sampaikan pada Kekasihmu, Dulu Kau Bertepuk Sebelah Tangan...

Hai, kamu yang terlalu percaya bahwa aku (pernah) mencintaimu.
Apa kabar? Baik? Bagaimana kehidupanmu sekarang? Lebih baik bukan setelah lama memutuskan hubungan denganku? Ah, dengan orang-orang di sekitar kita kau dan aku juga, bukan? Apa kabar wanita yang kau banggakan? Baik? Bagaimana hubunganmu dengannya? Baik kan? Kuharap begitu, supaya tak ada lagi daftar nama wanita yang mencemburui aku tanpa sebab.
Kuingat beberapa tahun lalu kita aku dan kau pernah dekat, saat itu aku masih mempunyai kekasih. Yang sangat kusayang tanpa kusadari bahwa aku tak bisa hidup tanpanya. Perlu kuingatkan namanya? Iya, Reza Husein Alattas. Berperawakan tinggi, blesteran Arab-Spanyol-Sunda, yang selalu menatapmu dengan tatapan dingin. Bukan, dia bukan cemburu tanpa sebab seperti wanita yang kau puja. Sebab, dia tau kau punya rasa padaku.
Kau datang di saat yang tepat. Berterima kasih pada waktu karena sempat mendekatkan kau dan aku. Bukan mauku, kau jangan tinggi hati. Sebab kubilang, aku mencintai lelakiku. Camkan itu! Kau mencintaiku saat aku merasa lelakiku tak mencintaiku secakap kau mencintaiku. Berterimakasihlah pada pikiran negatifku karenanya kau jadi tinggi hati menganggapku juga mencintaimu. Tidak. Tidak pernah. Dan atas izin Tuhan, tidak akan.
Apa yang aku dan kau lakukan murni karena khilaf. Tanpa dasar saling mencinta sebab hanya kau yang merasakannya. Aku menciummu yang kubayangkan lelakiku. Aku bersandar pada bahumu yang kupikirkan lelakiku. Aku rela dipelukmu yang kurasakan hangat tubuh lelakiku. Kau bilang aku murahan? Beri tahu saja pada dunia! Memang mereka peduli? Kau hanya akan mendapat cemooh sebab kau terlalu bodoh!
Tak perlu kau siksa aku dengan caci makimu tentangku. Tak akan mempan. Ditinggalkan oleh lelakiku sudah cukup menjadi cambuk. Iya, aku dan Reza sudah tak bersama. Jangan tinggi hati dulu. Bukan kau alasannya. Tak ada kau terselip dalam tiap alasan aku dengannya berpisah. Kusebut ini karma karena telah menyia-nyiakannya. Tiga kali aku punya pendamping lain belum ada yang bisa menggantikan posisinya. Dia terlalu sempurna dan sangat jauh denganmu; bagai langit dan bumi. Jadi, jangan tinggi hati bahwa kau bisa menggantikan posisinya. Tidak sama sekali.
Sudah jelas kah semua penjelasan dariku tentang kita aku dan kau dulu? Sampaikan pada kekasihmu, dulu kau bertepuk sebelah tangan. Jangan lagi merasa aku berharap pada dirimu atau kau yang kuingat tiap aku bicara tentang masa laluku. Masa laluku bukan cuma satu, tetapi tentu bukan kamu.
Semoga kau dan dia diberkati Tuhan atas aku yang selalu dipaksa masuk dalam permasalahan kalian. Sekian...
Dariku, yang terlalu lelah dicemburui tanpa sebab.